Hastag Campus

5 Alasan Pelajar Masa Kini Butuh Cognitive Flexibility

Banyak ditemukan, para lulusan baru justru memiliki wawasan dan pengalaman yang sangat minim. Itu sebabnya, pelajar masa kini butuh cognitive flexibility agar mampu menyesuaikan diri dengan ragam perubahan global yang sangat cepat dan melaluinya dengan kesuksesan.

Cognitive flexibility bisa diartikan sebagai kemampuan diri mempelajari wawasan baru bahkan tak jarang berkaitan dengan disiplin ilmu yang berseberangan dengan basis kompetensi kita. Lebih lengkapnya, berikut 5 alasan kamu butuh cognitive flexibility dalam hidupmu. Yuk, simak ulasan berikut!

1. Kemampuan spesifik saja tidak cukup
Kemampuan spesifik memang sangat baik dicapai setiap orang agar dia menjadi ahli di bidangnya dan bisa dipercaya oleh orang lain untuk mengatasi problemnya. Contohnya, ahli desain grafis, komikus, animator, penulis fiksi dan sebagainya.

Namun, jika para profesional tersebut menutup diri dari disiplin ilmu lain dalam bekerja, bisa dipastikan, kariernya tidak berkembang lebih baik. Seorang komikus perlu mempelajari strategi pemasaran untuk menjual karyanya. Dia juga perlu sentuhan keahlian teknologi agar komiknya dapat dibaca lebih banyak orang dari berbagai sebaran daerah hingga negara.

Baca juga: 7 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Lulus Kuliah Selain Bekerja

2. Masa depan punya tantangan yang lebih kompleks
Dunia setelah sekolah dan kampus punya kompleksitas problem yang sangat tinggi. Sudah seharusnya, para pelajar maupun mahasiswa terbiasa dengan proyek-proyek yang kurang lebih sama dengan yang akan mereka hadapi di dunia kerja. Namun, masalahnya belum banyak yang bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk mengambil peran ini.

Padahal, perkembangan beragam industri di luar lingkup kampus atau sekolah sangat pesat. Industri hiburan, budaya, seni, kuliner, busana dan lain-lainnya begitu laju mengikuti tren. Belum lagi isu-isu global seperti perang dagang, ekonomi kacau dan sebagainya perlu disikapi dengan perencanaan matang dan jangka panjang.

3. Setiap ilmu pengetahuan perlu dikembangkan, tidak cukup diajarkan saja
Tujuan dari keluwesan kognitif adalah memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan pengetahuannya menjadi karya tepat guna dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam keseharian. Itulah sejatinya esensi pendidikan yang ingin kita capai.

Tapi, faktanya tidak semudah itu. Banyak benturan yang membuat komponen pendidikan melupakan esensi. Dampaknya, sekolah atau kampus seolah menjadi sekadar wadah transfer ilmu tanpa tahu implikasinya hendak dibawa ke arah mana.

Baca juga: Bukan Malas, Ini 7 Alasan Mahasiswa Tak Bisa Lulus Tepat Waktu

4. Agar menghasilkan akademisi yang siap berkiprah dengan kompetensinya
Banyak para lulusan atau akademisi dengan pendidikan tinggi dan dari kampus keren tidak membawa image yang senada. Salah satu penyebabnya adalah kampus yang banyak tertinggal sehingga suhu dan isu yang berkembang tertinggal dari perkembangan dunia terkini. Selain itu, para pelajar dan mahasiswanya pun tidak punya inisiatif untuk mempelajari wawasan di luar materi kuliah yang akan bermanfaat untuk fase karirenya.

Setiap pelajar perlu memiliki cognitive flexibility dalam hidupnya, bukan sekadar dunia pendidikan yang dijalaninya. Dia harus mampu membuka diri untuk mempelajari apa pun yang bisa menunjang impian kariernya di masa depan. Jika hal itu dipersiapkan sejak awal, maka para lulusan siap bekerja dan berkembang, bukan sekadar cari uang.

5. Tak selalu mengutuk kegelapan, ada kalanya kita perlu sekaligus menyalakan lilin
Ada satu kultur lagi yang cukup buruk bersemayam di mental kita yaitu reaktif terhadap masalah. Padahal, jika kita membaca persoalan dengan teliti dan prediksi peta masalahnya, maka potensinya dapat kita padamkan lebih awal.

Bukan berarti melakukan kesalahan selalu berdampak buruk. Ada kalanya, dari kesalahan kita belajar banyak hal. Sayangnya, kita sering mengabaikan pengalaman-pengalaman yang sudah ada tanpa mau mempelajarinya. Kita seperti mengulang kesalahan yang sama, bukannya bertemu dengan pengalaman yang baru.

Mengutuk kegelapan itu bagus, namun akan lebih baik jika disertai dengan tindakan menyalakan lilin. Mengkritik situasi sekaligus menyodorkan solusi. Bukankah itu lebih baik?

Nah, itulah alasan pentingnya memiliki keluwesan kognitif dalam menjalani proses belajar.

Sumber: Idntimes.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star