Hastag Campus

Beda Introvert Vs Ekstrovert Saat Mengalami Patah Hati

Kepribadian introvert dan ekstrovert bisa sangat memengaruhi respons seseorang ketika mengalami patah hati. Kepribadian ekstrovert cenderung lebih terbuka, sementara introvert lebih senang menyendiri.

Bona Sardo, MPSi, psikolog dari Universitas Indonesia mengatakan patah hati merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Patah hati bisa terjadi ketika cinta bertepuk sebelah tangan ataupun mengharapkan cinta namun orang tersebut sudah memiliki pasangan.

Secara sekilas, ekstrovert menurutnya lebih mudah menghadapi patah hati. Sebabnya, mereka jarang menyimpan beban dan cenderung mau bercerita soal masalah yang sedang dihadapi, termasuk soal asmara dan patah hati, “Kalau ekstrovert kan lebih terbuka dengan orang lain, dia senang curhat ke teman-temannya, nah dengan begini kan akan dapat masukan. Jadinya menghadapi patah hati lebih gampang,” tutur Bona.

Di sisi lain, orang dengan kepribadi introvert cenderung menyimpan perasaannya sendiri. Karena itu mereka jarang menceritakan masalah yang dihadapi, apalagi urusan asmara dan patah hati.

Dikatakan Bona, sebenarnya tidak apa-apa menjadi introvert. Yang harus diperhatikan adalah jika kepribadian introvert juga disertai dengan self-esteem rendah atau rendah diri.

“Kalau self-esteem rendah, kita jadi berpikir tidak berharga. Cinta kita ditolak, kita langsung merasa diri kita jelek, kita yang salah dan kita tidak layak dicintai. Ini yang nggak boleh dan berbahaya,” paparnya lagi.

Self-esteem yang rendah menurut Bona rentan membuat seseorang menjadi depresi. Padahal depresi merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang berbahaya karena dapat memicu keinginan untuk bunuh diri jika tak ditangani.

“Makanya kita harus bisa menghargai diri sendiri. Harus ingat bahwa setiap diri kita berharga. Kita manusia yang punya kelebihan dan kekurangan. Kalau sekarang ditolak ya nggak apa-apa, mungkin lain waktu baru dapat,” tutupnya.

[Quiet : Pahami Daya Kekuatan Sang Introvert]

Banyak orang menduga seseorang yang berkepribadian introvert adalah sosok pendiam, kutu buku dan anti sosial.

Berbagai label negatif diberikan kepada para introvert sehingga sosok extrovert-lah yang menjadi contoh baik dalam masyarakat.

Akan tetapi, Susan Cain dalam bukunya yang berjudul “Quiet: The Power of Introvert” (diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia : Quiet, Daya Introvert dalam Dunia yang Tidak Bisa Berhenti Bicara), mengungkapkan bahwa dibalik kepribadian introvert tercipta orang-orang sukses. Sisi-sisi positif para introvert inilah yang kemudian diulas oleh Susan Cain di dalam bukunya tersebut.

Susan Cain menjawab keresahan tersebut dengan mengungkapkan bahwa orang yang berkepribadian introvert adalah sosok orang-orang pemerhati dan pendengar yang baik.

Kamu bisa memesannya dengan mudah melalui WhatsApp ke no 0822-3209-6491 dengan format : Saya Mau Beli Buku Quiet atau klik di bit.ly/PesanQuiet

 

Credit Content : Detik.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star