Punya Cita-Cita Jadi Guru? Catat 7 Hal Ini!

Tahukah kamu bahwa sebuah organisasi nirlaba di Amerika Serikat bernama National Public Radio (NPR) di tahun 2016 pernah melakukan riset mengenai guru-guru hebat. Mereka memetakan semua guru di semua tingkatan, semua guru mata pelajaran, dan dari guru-guru di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya.

Ada 50 guru hebat yang berhasil masuk daftar panjang dari NPR. Pada artikel ini ada 7 guru paling hebat yang membagikan tipsnya. Bersama guru-guru tersebut, NPR membuat panduan kecil bagaimana menjadi guru yang hebat.

1. Sadari bahwa mengajar adalah keterampilan yang dipelajari
Deborah Ball, Dekan Fakultas Pendidikan di Universitas Michigan, menyatakan, “Saya benar-benar berusaha keras untuk menghilangkan gagasan bahwa mengajar adalah hal yang kamu peroleh sejak lahir dan mengajar adalah sesuatu yang wajar di kehidupan sehari-hari. Saya tidak berpikir salah satu dari keduanya itu benar.”

Guru yang baik tidak dilahirkan, ia dilatih secara terus-menerus. Bukan hanya setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Sebagai orang yang bertanggungjawab di Fakultas Pendidikan, Deborah Ball menyusun program-program latihan bagi calon-calon guru. Ia berharap calon-calon guru bisa menyajikan sebuah masalah dalam mata pelajaran yang dikuasainya dan memimpin diskusi dengan siswa-siswanya kelak.

2. Menyatakan kebenaran
Molly Pollak, yang telah 40 tahun mengajar sebagai guru bahasa Inggris di SMP dan SMA di New York City, selalu memberi peraturan kepada siswanya di tahun ajaran baru, “Aku akan mengatakan yang sebenarnya, kamu juga harus mengatakan yang sebenarnya. Sisanya baru dijelaskan.”

Itu adalah tips pertama darinya, yaitu kejujuran. Yang kedua, guru harus tegas. Bukan hanya memanjakan siswanya dengan memuji-mujinya. Guru pun dituntut bekerja keras untuk membuat siswanya menghormati mata pelajaran dengan cara mendengarkan ide-ide mereka. Diharapkan siswa turut andil dalam mata pelajaran tersebut.

Yang ketiga, guru harus peduli. Setiap siswa memiliki kehidupannya masing-masing, bahkan ada yang rumit. Guru harus menyadari, mereka bukan hanya siswa, mereka adalah orang-orang yang mempelajari hidup mereka dengan cara masing-masing.

3. Bangun kepercayaan
Seorang guru renang di Los Angeles, Conrad Cooper, berkata, “Berenang itu mudah. Bagian tersulit adalah membangun kepercayaan kepada siswa.”

Ia pernah mengajari seorang anak laki-laki berumur 5 tahun, yang selalu menangis di hari-hari pertama ia belajar berenang. Conrad terus menjaganya dan membuat si anak percaya kepadanya. Di akhir pekan, anak itu sudah berani melompat dari tepi kolam renang ke dalam air, padahal ia belum punya pengalaman berenang.

Conrad selalu memperoleh sambutan hangat dari siswa-siswanya setelah belajar berenang, bisa itu pelukan atau tepuk tangan. Yang mengejutkan, ada seseorang yang bertahun-tahun lalu menjadi siswanya, sekarang ia kembali dengan membawa anaknya sendiri untuk dilatih Conrad.

4. Memberi julukan rahasia
Mathias Schergen, seorang pensiunan guru kesenian di Sekolah Dasar Jenner di Chicago, menuturkan di masa awal ia mengajar, ia merasa kikuk. Ia tidak tahu bagaimana membuat siswanya memperhatikannya.

Beberapa hari kemudian, ia memperoleh ide. Ia meminta murid-muridnya memanggilnya Tuan Laba-laba. “Menjuluki diriku sendiri sebagai Tuan Laba-Laba, memberiku jalan keluar. Itu membantuku mengungkapkan sisi lain diriku yang harus kumiliki tapi tidak pernah keluar,” tutur Mathias.

Jadi setelah itu, Mathias mampu mengendalikan kelas. Membuat kelasnya tidak hanya kelas seni yang membosankan. Ia pun menyulap kelasnya menjadi semacam galeri seni, dan siswa-siswinya dibebaskan untuk mengekspresikan dirinya pada ruangan tersebut.

Selain itu, ia juga memperkuat identitasnya sebagai Tuan Laba-Laba dengan menempel beberapa stiker dan lukisan di ruangannya. Kadang-kadang siswanya diminta untuk menghitung jumlah laba-laba tersebut.

Dari hal itu, Tuan Laba-Laba banyak mendapatkan penghargaan guru seni terbaik dari pemerintah daerah.

5. Jadilah rekan berdebat
“Semua murid di sekitarku, mereka bisa dengan mudah datang, dan mereka bisa menantangku. Mereka bisa menolakku. Mereka bisa menentangku. Mereka bisa tertawa denganku. Kadang-kadang mereka bahkan bisa menertawakanku. Mereka bisa!” kata Aziz Royesh, seorang guru Sekolah Marefat di Afghanistan.

Royesh bukanlah guru profesional. Ia bahkan terpaksa berhenti bersekolah saat usianya 10 tahun disebabkan konflik di negaranya. Namun, tekadnya sangat kuat untuk membantu anak-anak di sekitarnya yang tidak bisa sekolah karena konflik yang bertahun-tahun tidak kunjung berakhir.

Impiannya adalah ingin agar anak-anak, terutama anak perempuan, bisa memiliki kemandirian dalam hidupnya. Perjuangannya punya banyak rintangan. Dari mulai penentangan masyarakat, hingga pemerintah pusat yang tidak mengizinkan Sekolah Marefat mendapat sertifikasi nasional sebab mencampur antara murid laki-laki dan perempuan, serta mengajarkan pendidikan kewarganegaraan.

Sampai sekarang, ia tetap mengajar di sekolah yang ia anggap sebagai sekolah komunitas. Penghargaan tertinggi yang ia peroleh adalah masuk dalam 10 besar Varkey Foundation’s Global Teacher Prize, semacam hadiah nobel untuk para pendidik.

6. Jadilah guru yang perhatian
Beberapa kalimat mengharukan pernah diucapkan oleh Tia Tsosie Begay, seorang guru kelas 4 di Arizona, “Aku ingin siswaku berkata, ‘Setidaknya satu orang, yaitu Miss Begay, yang selalu ada setiap hari untukku; Miss Begay akan bertanya-tanya di mana aku jika aku hilang; Akan ada satu orang yang mencariku, dan itu Miss Begay!’ ”

Tia Tsosie Begay berasal dari Suku Indian Navajo. Dalam kebudayaan leluhurnya, para guru dihormati sebagai “pejaga kebijaksaan” yang dipercayakan kepada kaum muda untuk membantu mereka tumbuh dan belajar. Begitulah prinsipnya dalam mengajar.

Biasanya saat waktu makan siang, Begay duduk bersama murid-muridnya, dan menanyakan apa yang mereka sukai dari dirinya. “Miss Begay nggak pernah marah,” kata seorang gadis. Seorang anak laki-laki menambahkan, “Miss Begay lucu dan suka bercerita lucu. Misalnya, ‘Hantu suka makan apa, anak-anak? Sbooghetti!’ ”

Karena seringkali memperhatikan siswanya, Begay tahu ada seorang anak yang punya masalah keluarga. “Dalam dua hingga tiga tahun, dia akan putus sekolah,” ujar Begay seraya berkaca-kaca. Begay ingin anak itu tahu bahwa setidaknya ada satu orang yang memperhatikannya dan mengharapkan kejadian itu tidak akan menimpa dirinya kelak.

7. Jadilah guru, bukan teman
“Sangat penting untuk mendukung mereka. Sangat penting untuk menghormati mereka. Penting untuk memeliharanya. Tapi, menjadi teman? Tidak,” terang Nick Halley, pelatih dayung Rose City Rowing Club di Portland, Oregon.

Pelajaran pertama yang diajarkan oleh Halley adalah soal disiplin waktu. Kemudian adalah soal rasa hormat, bagaimana siswanya menghormati sesama rekan tim, pelatih, olahraga itu sendiri, dan paling penting peralatan.

Prinsip mengajar yang diterapkan oleh Halley tak lepas dari peran pelatihnya dulu. Seorang mantan atlet olimpiade mengajarkan Halley bagaimana menjadi inspiratif dan tangguh.

“Pelatih saya dulu tidak memanjakan saya,” ungkap Halley. “Dia berbicara kepada saya seolah-olah saya orang yang layak mendengar penuturannya secara langsung.”

Dengan pengaruh pelatihnya itu, Halley kini mampu melatih hingga 100 siswa dalam sekali jadwal latihan. Ia selalu ingin membuat anak-anak asuhnya berada di jalur yang tepat, meskipun mereka masih remaja.

Nah, buat kamu yang berniat jadi guru, guru apa pun nantinya, ingat-ingatlah tips dari guru-guru hebat di atas. Semoga bisa membuatmu menjadi guru hebat juga nantinya.

Penulis : Agung Setya
Sumber : Idntimes.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s