Saya Resign Sebelum Dapat Pekerjaan Lain. Bukan Gegabah, Keputusan Ini Juga Tak Mudah

Sudah ada kantor baru? Mau lanjut sekolah? Apa mau nikah? Apa rencanamu selanjutnya? Lho, terus kenapa resign kalau kamu belum punya rencana apa-apa?

Begitu banyak pertanyaan yang saya terima setelah saya memutuskan untuk resign. Semakin bertubi-tubi setelah saya menjawab bahwa saya belum punya pekerjaan baru dan tak tahu apa yang akan saya kerjakan nanti. Segera setelah menjalani farewell party dan last day, saya resmi menjadi pengangguran. Tidak perlu bangun pagi, tidak ke kantor, dan tentu saja, tidak punya penghasilan.

Tak menunggu lama, teman-teman melihat saya dengan pandangan yang aneh. Seolah saya memutuskan untuk pindah ke Mars, meski belum ada pernyataan resmi dari ilmuwan bahwa Planet merah itu layak dihuni. Yang lain menyebut saya gegabah dan pongah, padahal sebenarnya saya hanya sedang memutus segala resah.

“All you’ve got to do is decide to go, and the hardest part is over.” – Tony Wheleer –

Well, rumus umumnya bila kamu tidak suka dengan pekerjaan yang sekarang, mulai cari-cari yang baru. Tapi tak perlu resign sebelum punya pelabuhan lain. Bila tak suka dengan pekerjaannya, setidaknya lakukan karena uangnya. Realistis saja tho? Hidup memang butuh uang.

Saya memang totally clueless. Saya hanya tahu  bahwa pekerjaan saya saat itu bukanlah sesuatu yang ingin saya kerjakan seumur hidup. Ada sesuatu di luar sana yang ingin saya kerjakan, meskipun saya belum tahu bagaimana cara meraihnya. Padahal mencari pekerjaan baru juga tidak mungkin kilat seperti memesan pizza, sementara saya semakin kehilangan nyawa di pekerjaan yang saat itu saya punya.

Membuat keputusan ini luar biasa sulitnya. Bukan soal menghadapi pertanyaan orang lain yang bertubi-tubi, melainkan justru menjawab pertanyaan dari diri saya sendiri. Apa yang akan saya lakukan setelah ini? Dan bagaimana saya bisa bayar kontrakan, beli pulsa, nasi, dan kopi?  Minta pada orang tua jelas sudah bukan waktunya karena saya sudah sarjana.

Namun, setiap kali saya pulang ke rumah dengan mental yang begitu lelah, dan bayangan betapa beratnya mengangkat pantat untuk kembali bekerja esok hari, satu keputusan harus dibuat.

“If you don’t like where you are, move. You’re not a tree.” – Anonymous –

Image credit: lifehack.org

Banyak alasan mengapa seseorang mau bertahan di sebuah pekerjaan. Pendapatan yang tinggi dan terjaminnya kesejahteraan hidup salah satu alasannya. Jenjang karier yang jelas dan pekerjaan yang menyenangkan boleh juga. Dan mungkin saja lingkungan kerja yang menyenangkan dan atasan yang bisa dijadikan teladan untuk belajar juga bisa menghilangkan niat resign dari pikiran seseorang.

Namun semakin saya pikirkan, alasan-alasan itu tidak bisa menahan saya lebih lama. Passion jelas bukan. Segala ilmu yang sudah saya dapatkan memang sangat berguna, tapi itu bukan yang saya mau. No reason to stay is a reason to go. Jadi untuk apa saya berkeras pada diri saya sendiri?

“Stop holding yourself back. If you are not happy, make a change.” – Anonymous –

Setelah tarik ulur perasaan yang membentur-benturkan segala pertimbangan, saya sampai pada satu kesimpulan. Saya punya mimpi, saya tahu apa yang saya ingin lakukan, dan hanya saya sendiri yang bisa mewujudkannya. Bila saya terus bertahan di sini, melakukan apa yang sebenarnya tidak saya sukai hanya supaya bisa membeli kopi dan nongkrong seperti anak masa kini, mungkin saya tidak akan pernah bisa menggapai mimpi. Lalu seumur hidup saya akan menyalahkan diri sendiri.

 “Nothing is worth if you aren’t happy.” – Anonymous –

Image credir: fastcompany.com

Tentu saja hidup tak semudah itu. Tagihan-tagihan harus tetap dibayar, dan perut tetap harus dikenyangkan. Well, memutar otak adalah hal yang pertama saya lakukan. Toh, mencari uang bukan hanya di perusahaan. Saya belajar mengelola online shop, saya coba bekerja freelance, dan segala hal yang penting halal dan menghasilkan. Selain untuk bertahan hidup, siapa tahu bisa menambah skill yang bisa saya cantumkan dalam CV.

Pelan-pelan, saya mulai menemukan apa yang saya cari. Meski sudah berada di karier impian, bukan berarti hidup jadi lebih mudah. Tetap saja ada momen-momen menyebalkan yang membuat rambut ubanan. Tapi meski saya harus mulai lagi dari awal, dan merangkak perlahan-lahan, setidaknya saya sudah di jalur yang tepat. Tinggal saya siapkan amunisi untuk menaklukkan berbagai rintangan, sehingga 10 tahun mendatang saya menjadi sosok yang selama ini saya angankan.

Memang tidak semua orang berpikir ‘sederhana’. Melepaskan sesuatu yang terbiasa dijadikan sandaran memang tak mudah. Namun untuk saya, selamanya, hidup adalah soal pilihan. Maka tetap tinggal atau pergi, hanya saya yang bisa tentukan sendiri. Yang terpenting bukanlah bagaimana menaklukkan dunia, melainkan menaklukkan diri sendiri. Salah satunya dengan mengambil keputusan, lengkap dengan segala risiko yang akan datang.

Source : bukapintu.co

Kami sedang membuka DONASI untuk sekolah binaan iCampus Indonesia dan Hastag Campus. Salurkan donasimu dengan cara melalukan klik IKLAN atau ADVERTISEMENTS dari para sponsor yang ada di pada website ini. Penghasilan IKLAN akan kami berikan ke SEKOLAH ALAM PROBOLINGGO.  Terima Kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s